80 TOKOH SASTRAWAN INDONESIA YANG BERPENGARUH

80 TOKOH SASTRAWAN INDONESIA YANG BERPENGARUH

Inilah beberapa tokoh sastrawan yang ada di indonesia yang pernah menjadi pelopor sastra di Indonesia. tokoh sastrawan indonesia

  1. Abdul Wachid B.S.

Lahir di Desa Bluluk, Lamongan, Jawa Timur, 7 Oktober 1966. Mengambil jurusan Sastra Indonesia di UGM, ia mulai menulis sejak 1985. Pada tahun 1992 dan 1994 memenangkan lomba cipta puisi yang diadakan oleh FKY IV dan Taman Budaya Yogyakarta. Karya-karyanya antara lain: Ode bagi Burung, Mencari Malam Seribu Bulan, Tahajud, Ada Setetes Diriku, Sahabat Langit Sahabat Trotoar, Kupu-kupu Terperangkap Gelap, Cahaya Nyala dalam Gelas, Sekeliling Gelas Oleng, Bulan Telah Menjadi Sabit, Rumah Tanpa Plafon,dll.

  1. Abidah El Khalieqy

Lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Maret 1965, menggunakan nama samara Ida Bani Kadir jika menulis prosa dan menggunakan namanya sendiri apabila menulis puisi, kumpulan puisinya yaitu Ibuku Laut Berkobar (1997). Karya-karyanya antara lain: Cukuplah Bagiku, Sekendi Air Bumi, Bersama Ibu Kesunyian, Opium, Menjelang Hijrah, Sajak 1,2,3,4, Karena Aku Menyelam, Ekstase Hawa, Prasasti Perkawinan, Nyanyian Angin, dll.

  1. Acep Iwan Saidi

Lahir di Bogor, 9 Maret 1969, pada tahun 1995 ia lulus dari FakultasSastra UnPad. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sastra dengan mendirikan Kelompok Diskusi Delapan Jatinangor Merdeka (Sumedang), Kelompok Diskusi Belajar Membaca (Bogor), dan Lembaga Studi Penerjemah Indonesia (Bandung). Salah satu karya esainya adalah Jika Puisi Harus Ditulis Juga.

  1. Ahmad Fuadi

Lahir di Bayur Mininjau, Sumatra Barat, 30 Desenber 1972. Bayur sebuah kampong kecil di pinggir Danau Minanjau. Ia adalah seorang penulis novel, pekerja social dan mantan wartawan dari Indonesia Ahmad Fuadi mulai terkenal sejak novel pertamanya, Negri 5 Menara. Novel tersebut merupakan buku pertamanya dari triologi novelnya dan diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2012 dan menjadi salah satu film terlaris tahun 2012.

  1. Andrea Hirata

Andrea Hirata  lahir 24 Oktober 1967 disebuah desa miskin di pulau Belitung ia adalah anak ke-4 dari pasangan Seman Said Haruniah dan N.A Masturah ia adalah penulis novel “Laskar Pelangi”.

  1. Ayu Utami

Justiana Ayu Utami atau hanya Ayu Utami lahir di Bogor, Jawa Barat 21 November 1968 adalah aktivis jurnalis dan Sastrawan  aliran sastranya adalah Roman.

  1. Acep Zamzam Noor

Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 Februari 1960, dibesarkan dalam lingkungan keagamaa. Di samping sebagai sastrawan, ia juga seorang pelukis yang sering berpameran baik di dalam maupun di luar negeri. Karya-karyanya antara lain: Tengah Hari, Montmantre, Buat Lina Segaral Reyes, Buat Malika Hamoudi, Sacre Coeur, Rue Des Alouettrs, Alfortville, Napas Gunung, Ifni, Louvre, Candidasa, Ulluwatu, Pesantren, Santr, dan Puisi, dll.

  1. Adi Wicaksono

Lahir di Malang Jawa Timur, 18 September 1966, tahun 1990 ia memenangkan Hadiah II lomba cipta puisi yang diselenggarakan Dirjen Kesenian Depdikbud RI. Karyanya antara lain: Laut Megatruh

  1. Afrizal Malna

Lahir di Jakarta, 7 Juni 1957, tahun 1980 ia memenangkan hadiah dalam Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep. Tahun 1984 ia memperoleh Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta atas kumpulan puisinya Abad yang Berlari, tahun 1994 ia memperoleh hadiah harian Republika sebagai penulis esai terbaik, dan tahun 1996 ia memperoleh hadiah sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Pada tahun 1993 ia keliling Swiss dan Jerman dalam rangka pertunjukan Teater Sae, tahun 1995 ia menghadiri pertemuan penyair Indonesia-Belanda di Den Haag, Negeri Belanda, sambil melakukan pembacaan puisi, diskusi sastra di beberapa universitas di Jerman. Bulan Juni 1996 ia menghadiri Poetry International Rotterdam yang dihadiri para penyair dari 25 negara di dunia. Karya-karyanya antara lain: Abad yang Berlari, Maatahari Bachri, Winter Festival, Lelaki yang Menjadi Seekor Burung, Kardus Pandora, Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga, 2×2 Meter, Seorang Tua di Sebelahku, Kucing Berwarna Biru, Kalung dari Seorang Teman, Di Bawah Sihir Suara Gergaji, Anak dari Kobaran Api, Tarian Enggatzi, Telinga Waktu, Tangan di Pagi Hari, Narasi Baru dari Kematian Kata dan Pluralisasi Media Bintang-bintang Membuat  Kerang di Punggungku.

  1. Agus Noor

Lahir di Tegal, JawaTengah, 26 Juni 1968, Jurusan Teater Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba penulisan cerpen yang diadakan Yayasan Merdeka Jakarta (1989), dan cerpennya “Musuh” merupakan nominasi dalam “Lomba Cipta Puisi dan Cerpen FKY IV, 1992” dan kemudian dibukukan dalam Ambang (1992). Karya-karyanya antara lain: Wajah, Sepotong Bibir di Jalan Raya,dll.

  1. Agus R. Sarjono

Lahir di Bandung, 27 Juni 1962, pendiri dan Ketua Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung.tahun 1995 ia mewakili Indonesia dalam Second ASEAN Writer’s Conference untuk bidang puisi di Manila, Filipina, dan akhir 1995 ia menjadi salah seorang wakil dalam Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta. Sejak 1997 ia masuk ke dalam jajaran redaksi majalah Horison, ia menjadi editor buku Puisi dan Beberapa Masalahnya (karya Saini K.M., 1993), Catatan Seni (1996). Berikut puisi-puisinya yang terdapat dalam kumpulan Kenduri Air Mata: Suatu Hari, Cintaku, Hari-hari Awan, Walsa Ulang Tahun, Pamflet Bunga, Instalasi Air Mata, Bersama Para TKW, Pantun Latihan, Demokrasi Dunia Ketiga, Di Jembatan Mirabeau, Bukan di Tanah Airku.

  1. Ahmad Nurullah

Lahir di Sumenep, Madura, 10 November 1964, bekerja sebagai surveyor bidang Tipografi dan Hydro-Oceanografi sebuah perusahaan Engineering Consultant di Jakarta. Karya-karyanya antara lain: Renungan Kelahiran, Negeri Pisau, Ritus Bunuh Diri, Genesis, Negeri Api, dll.

  1. Ahmad Syubbanudin Alwy

Lahir di Cirebon, 26 Agustus 1962, tulisannya berupa puisi, esai, dan cerpen yang ditulisnya juga dengan bahasa Cirebon. Salah satu karyanya adalah Pertumbuhan dan Perkembangan “Gerakan Sastra” di Indonesia.

 

  1. Ahmadun Yosi Herfanda

Lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1956. Awal karirnya dimulai dari seni lukis dan teater,pernah menjadi guru dan juranalistik. Ia sering menerima hadiah penulisan cerpen dan puisi dari radio Nederland (1989), Yayasan Iqra (1992), Suara Merdeka (1992), Puisi MABIMS dari Brunei Darussalam (1997),dll. Karya-karya puisi dan cerpennya antara lain: Sembahyang Malam, Fragmen Kekalahan, Fragmen Perjamuan, Zikir Rumputan, Resonansi Indonesia, Sajak Mabuk Reformasi, Ode Prajurit Tanpa Nama, Sajak Bulan-Bulanan, Sebutir Kepala dan Seekor Burung, dll.

  1. Arie M.P.Tamba

Lahir di Tamba, Samosir, Sumut, 9 April 1961, mulai menulis sejak 1986 berupa puisi,cerpen, novelet, novel, esai, dll. Tahun 1981 mendapat penghargaan dalam lomba cipta puisi radio Elga,  Bandung,tahun 1992 mendapat predikat cerpenis terbaik harian Terbit, Jakarta. Tahun 1991 mengikuti pertemuan Sastrawan Muda ASEAN di Manila, Filipina. Ia aktif di PEN Indonesia, cerpennya yang dimuat dalam antologi adalah Bulang Angka 11

  1. Arif B. Prasetyo

Lahir di Surabaya,30 September 1971, kumpulan puisi tunggalnya berjudul Mahasukka (2000) dan ia juga banyak menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karyanya antara lain: Kutawarkan Padamu, Rubayat, Igau Bulan, Eros, Sindu, dll.

  1. S. Laksana

Lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968, ia menulis cerpen, esai, puisi, dan scenario. Ia juga sempat bergabung dengan Ekapraya Film di Divisi Penulisan Kreatif, cerpennya antara lain: Seekor Ular di Dalam Kepala, Buldoser dan Ayah, dll.

  1. Aslan A. Abidin

Lahir di Soppeng, Sulsel, 31 Mei 1968, ia aktif menulis puisi sejak SMA. Puisi-puisinya antara lain: Ketika Senja Pergi dari Halaman Ini, Pada Sebuah Stasiun di Tapal Batas, Antara Ruang Tamu dan Medan Perang, Stop Press, Monorail, Kuantar Kau Sampai Stasiun Senen, Generasi Batu, Kaleidoskpo Percintaan, dll.

 

 

  1. Ayu Utami

Lahor di Bogor, Jawa Barat, 21 November1968, pernah memenangkan sayembara penulisan cerita humor di majalah Humor pada tahun 1991 ia menulis kolom mingguan bertajuk”Sketsa” di harian Berita Buana. Pernah menjadi wartawan dan redaktur jurnal kebudayaan Kalam. Fragmen novelanya yang berjudul Saman mendapat hadiah pertamadalam sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998.

  1. Beni R. Budiman

Lahir di Desa Dawuan,Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat, 10 November 1965, puisi-puisinya antara lain: Neraka Berkobar Dalam Tidurku, Api Unggun, Keramba, Pasanggrahan, Thespian, Camping, Fragmen Pandai Besi, Sanglot, Thaumasia, Kota Angin, Victoria, Standing Party, Kuda Lumping, Liliput, dll.

  1. Bre Redana

Lahir di sebuah desa di Salatiga, Jawa Tengah, 27 November 1957, bekerja sebagi wartawan Kompas,banyak menulis cerpen dan hampirsetipa tahun cerpennya terpilih sebagai cerpen pilihan di Kompas. Nama sebenarnya adalah Don Sabdono,yang salah satu karyanya adalah Mahesa Wulung (Atawa “Urban Sensation”)

  1. Cecep Samsul Hari

Lahir di Bandung, 1 Mei 1967, ia banyak menerjemahkan prosa dan puisi dan menyunting buku-buku yang berfokus pada pemikiran keagamaan. Karya-karyanya antara lain: Menemukan Negeri Sunyi, Negeri Seribu Peri, Syair Keindahan, Syair Tahun Baru, Syair Kemurungan, Di Pemakaman, Kesedihan Pagi Hari, Syair Hujan, Syair Sebelum Senja, Syair Kerudung, dll.

  1. Dewi Lestari

Dewi Lestari atau yang sering dikenal dengan sebutan Dee Lestari lahir pada tanggal 20 Januari 1976 di kota Bandung, Jawa Barat dari pasangan Yoan Simangunsong dan Tiurlan Siagian. Ia adalah penulis novel terkenal di Indonesia antara lain karya nya yang menjadi terkenal dan di filmkan adalah Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Supernova 1-4 dan banyak lagi.

  1. Dianning Widya Yudishtira

Lahir di Batang, JawaTengah, 6 April 1974, tulisannya berupa puisi dan cerpen mulai dipublikasikan sejak 1992. Karya-karyanya antara lain: Ibu, Untuk Suamiku, Rumah, Saatku di Pintu Kubur, Saksi, Suatu Hari Bersamamu,dll.

  1. Dimas Arika Miharja

Lahir di Yogyakarta, 3 Juli 1959 dengan nama Sudaryono. Mulai menulis sejak SMP dan tahun 1985 meraih pemenang penulisan puisi se-Indonesia. Beberapa puisinya yang dikumpulkan dalam Sketsa di Beranda antara lain: Sajak Sederhana Untuk-MU, Perjalanan 2, Perjalanan 4, Kado Ulang Tahun, Masjid Agung Al-Fallah, Candi Muara Jambi, Riak dan Ombak Batanghari, dll.

  1. Doddy Achmad Fawdzy

Lahir di Bandung, 4 September 1970, juga bekerja sebagai wartawan, puisi-puisinya antara lain: Yth. Saudara Acep Zamzam Noor, Kekasihku Desy Ratnasari, Yth. Nona Yumar, Kuburan, Sokrates, dll.

  1. Dorothea Rosa Herliany

Lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963, tulisannya dipublikasikan sejak 1985 berupa puisi, esai, cerpen, laporan budaya,dsb. Ia pernah menghadiri pertemuan sastrawan ASEAN di Manila,Filipina (1990),peserta festival puisi Indonesia-Belanda di Jakarta dan Rotterdam,Negeri Belanda (1995), dan sejumalh kegiatan sastra budaya lainnya. Karya-karyanya antara lain: Telegram Tak Diposkan, Memo: Rumah-rumah Batu, Ibadah Paroh Hati, Katedral Suatu Malam, Sebuah Alamat, Numpang Perahu Nuh, Catatan Petualang, Nelayan Kemalaman, Sebuah Museum Bagimu, Gaun Burung Gagak, Sajak yang Gagal, dll.

  1. Edi A.H. Iyubenu

Lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 13 November 1977, pada tahun 1996 ia menjuarai lomba cerpen se-DIY yang diadakan oleh PMII IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Salah satu cerpennya adalah Menari dengan Serigala.

  1. Endang Susanti Rustamji

Lahir di Yogyakarta, 24 April 1970, mulai menulis sejak 1983 berupa cerpen, puisi, artikel umum, reportase, wawancara, dan terjemahan yang dimuat dalam berbagai media massa. Tahun 1991 ia menjuarai lomba cipta puisi mahasiswa tingkat nasional di Forum Peksiminas1. Tahun 1992-1996 ia menjadi sastrawan nominasi Festival Kesenian Yogyakarta, karya-karyanya antara lain: Nyanyian Kartun, Kanvas Sunyi, Orkestra Belantara 2, Engkau Tak Pernah Lepas dari Integritas Waktu, Ziarah Arus Sejarah, Catatan yang Tertinggal, dll.

Faruk H.T.

Lahir di Banjarmasin, Kalsel, 10 Februari 1957, banyak menulis esai dan makalah untuk berbagai seminar dan kajian sastra, tulisan lainnya berupa puisi, cerpen, dan kritik sastra yang dimuat dan tersebarvdi berbagai media massa. Salah satu karyanya adalah Romantisisme (di Indonesia): Perlawanan Tak Kunmung Usai.

31. Gus TF

Lahir di Payakumbuh, Sumbar, 13 Agustus 1965, mulai menulis puisi sejak SD. Ia pernah memenangkan beberapa sayembara penulisan puisi maupun prosa, dan sering mengikuti pertemuan sastra, maupun pembacaan puisi, diantaranya Forum Puisi Indonesia 87 (1987) di TIM, Jakarta. Pengarang ini jika menulis puisi menggunakan nama Gus tf, jika prosa menggunakan Gus tf Sakai, sedangkan nama aslinya adalah Gustafrizal Busra. Karya-karyanya antara lain: Kasat Mata, Tak Pernah Kubutuh Sebuah Telepon, Didaktisme Catur Lima Episode, Malam Kawan-Kawanku, Kita Pernah, Dunia dalam Sebuah Kamar, Tukang Pos Gaib, Mantel, Bau Kelahiran, Daerah yang Kulupakan, Lokasi Tak Kutahu, Peristiwa Puisi, dll.

32 . Helvy Tina Rosa

Lahir di Medan, Sumut, 2 April 1970, mulai menulis sejak sebelas tahun berupa cerpen, esai, dan puisi. Menulis lebih dari 150 judul cerpen, salah satunya adalah Jaring-jaring Merah.

33. Herwan F.R.

Lahir di Cirebon, Jawa Barat, 14 Juni 1971, kini bekerja sebagai redaktur di Bandung. Ia pernah dinobatkan sebagai juara pertama penulisan puisi Pikiran Rakyat edisi Cirebon, puisi-puisinya antara lain: Dalam Cermin yang Semakin Buram Itu, Pertanyaan Sederhana, Potret Kubur, Potret Diri, Potret Tahun 1996,dll.

34. U. Mardi Luhung

Lahir di Gresik, Jawa Timur, 1965 dengan nama Hendry. Berikut karya-karyanya yang belum dipublikasikan: Kolam yang Terbikin dari Uap, Gairah Penyair, Mata-mata di Malam, Lelaki Perahuku, Adakah yang Tahu, Pejantan dengan Segilima Pemujaannya, Setelah Dua Ratus Tahun Terlupa, Bintang Berekor, Penerbangan Ikan Paus, Birahi Hujan, Penyairku: Kabar buat Rusmini.

35. Habiburrahman El Shirazy

Karyanya antara lain Ayat-ayat Cinta (2004), Diatas Sajadah Cinta (2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2007), Ketika Cinta Bertasbih 1-2 (2007), Dalam Mihrab Cinta (2007).

36. Irawan Sndhya Wiraatmaja

Lahir di Jakarta, Juni 1959,beberapa kali ia memenangkan sayembara penulisan puisi.puisi-puisinya antara lain: Ekstensial 1, Anak-anak Cinta Sekolah, Elergi, Surat Mawar, Keadilan.dll.

37. Isbedy Stiawan ZS

Lahir di Tanjungkarang, Lampung, 5 Juni 1958, terakhir bekerja sebagai wartawan Lampung Post dan kemudian Trans Sumatera. Puisinya antara lain: Menggali Bahasa, Jalan-jalan Membangun Tangga, Tak Kering Ombak, Bulan Pecah, Membaca Televisi, Dari Kaveling 2 Meter Persegi, Alifku Menghitung Rahasia, Interior Cinta, Saatnya Aku Mengerti, Daun Itu Jadi Perahu,dll.

38. I Wayan Arthawa

Lahir di Karangasem, Bali, 1961,mulai menulis tahun 1983. Puisinya antara lain: Kesaksian Burung Pengantin, Mengayuh Sukma Pengantin, Perahu Pengantin, Gilimanuk-Ketapang, Kali Ciliwung, dll.

39. Jamal D. Rahman

Lahir di Lenteng Timur, Sumenep, Madura, 14 Desember 1967. Ia dua kali diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Forum Puisi ’87 (1987), dan Forum Dialog Penyair Jakarta (1989). Terakhir ia dalah seorang direktur majalah Horison. Puisi-puisinya antara lain: Surat Tak Sampai 1, Surat Tak Sampai 2, Surat Tak Sampai 3, Surat Tak Sampai 4, Surat Tak Sampai 5, Surat Tak Sampai 6, Surat Tak Sampai 7, Surat Tak Sampai 8, Jejak, Bayang-bayang,dll.

40. Jamal T. Suryana

Lahir di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel, 1 September 1966 dengan nama Jamaluddin. Mendirikan Sanggar Kijang Emas bersama seniman muda Pelaihari, tahun 1992 meraih juara kedua Sayembara Cerpen Indonesia se-Kalsel. Kemudian tahun 1993 meraih juara pertama penulisan Naskah Buku Bacaan Tingkat Nasional, ia juga pernah memperoleh juara dua sayembara Mnulis Cerita Anak-Anak Tingkat Nasional (1996). Karya-karyanya antara lain: Jazirah Malam Hujan, Dalam Hujan, Pada Burung Kertas, Boneka-boneka, Monolog Sanur Beach, Sebelas, dll.

41. Joko Pinurbo

Lahir di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, 11 Mei 1962, biasanya ia menulis namanya Ph. Joko Pinurbo. Bersama Th. Kushardini ia menjadi editor dua buku alamarhum Y.B. Mangunwijaya: Pohon-pohon Sesawi (novel, 1999) dan Rumah Bambu (Kumpulan cerpen, 2000). Karya-karyanya antara lain: Januari 1997, Nonton Dangdut di Kuburan, Selamat Malam Jakarta, Di Kebun Buah, Boneka (1), Boneka (3), Celana (1), Celana (2), Celana (3), Puisi di Tengah Wacana Kekuasaan,dll.

42. Joni Ardinata

Lahir di Majapahit, Majalengka, Jawa Barat, 23 Juni 1966. Mulai menulis sejak 1993 denagn cerpen pertamanya yang dimuat harian Surabaya Post bulan Agustus 1993. Tahun 1994 cerpennya “Lampor” mendapat predikat terbaik, cerpennya antara lain: Drdanella, Orang Kampung, dll.

43. Jujur Prananto

Lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 30 Juni 1960, cerpennya “Parmin” dikembangkan menadi sebuah scenario dan mendapat penghargaan sebagai best telepay pada Festival Sinetron Indonesia tahun 1994. Cerpennya “Kado Istimewa” meraih hadiah cerpen terbaik harian Kompas,1929. Salah satu cerpennya yaitu Sang Pahlawan.

44. Kriapur

Lahir di Solo, 6 Agustus 1959 dengan nama asli Kristianto Agus Purnomo. Ia meninggal dalam kecelakaan lalu-lintas di Batang, Jawa Tengah, 17 Februari 1987. Tahun 1978 ia mendapat pengahargaan dalam Penulisan Puisi Radio Immanuel, solo, dan pada tahun itu juga ia mendapat hadiah penulisan Puisi Majalah Puteri Indonesia. Tahun 1982 ikut serta dalam Pekan Puisi 10 Kota yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1983 mengikuti pertemuan penyair Indonesia 1983 yang juag diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Puisi-puisinya antara lain: Tidur, Sajak buat Negaraku, Mungkin Kau Hanya Gemuruh Laut yang Pernah Kucemaskan Itu, dll.

45. Kris Budiman

Lahir di Bogor, Jawa Barat, 19 Desember 1964. Wacana Sastra dan Ideologi (1994) merupakan himpunan karya lepasnya yang menggunakan pendekatan akademik terhadap beberapa karya utama sastrawan Indonesia terkemuka dewasa ini. Salah satunya karyanya yaitu: Takut dan Senang: Sudut Pandang Idelogis Sri Sumarah.

46. Kurnia J.R

Lahir di Tanggerang, Jawa Barat, 5 Desember 1964. Cerpennya “Kristina” meraih juara II lomba Cerpen HUT ke-25 harian Kompas (1990), esainya “ Dari Sebuah Kafetaria” memengangkan juara harapan lomba esai majalah Tiras (1991), cerpennya “ Lorey” masuk 10 cerita pilihan Matra (1991), dan cerpennya “Operet Patah Hati” memenangkan juara II lomba cerpen humor majalah Humor. Karyanya antara lain: Natikwon, Malam Pengantin, dll.

47. Kusprihyanto Namma

Lahir di Ngawi, Jawa Timur, 30 Oktober 1965. Sejak SMP memperlihatkan bakat teater dan sastra, telah membentuk grup teater seperti, teater Garasi, Teater Opi, Kelompok Peron, Sanggar Duaribu, dan Teater Magnit. Karya-karyanya antara lain: Pundhen, Maya Kunang, Mimpi Belalang, Mistifikasi Daun Luruh, Kumbung, Langgam Perpisahan, Irama Kecipak, Religiositas Dupa, Tentang Kembang, Bisikanlah Kepadaku, dll.

48. Lea Pamungkas

Lahir di Bandung, 10 April 1964, mulai tertarik pada sastra sejak duduk di bangku SD Santo Paulus, Bandung. Sejak tahun 1984 ia menulis esai, dan kemudian terjun ke dunia jurnalistik, cerpennya “Warung Pinggiran” termasuk cerpen pilihan Kompas 1996. Salah satu cerpennya yaitu Halte Nomor 6.

49. Maman S. Mahayana

Lahir di Cirebon, Jabar, 18 Agustus 1957. Hasil penelitiannya “ Antara ‘Godlob’ Danarto dan ‘Dajjal’ Manasikana” terpilih sebagai pemenang Harapan 1 dalam lomba penelitian UI 1990.  Ia juga menerjemahkan beberapa cerpen Korea. Karyanya antara lain: Kritik Sastra Akademis-Apresiatif, Menafikan Sastra Koran, dll.

50. Medy Loekito

Lahir di Surabaya, 21 Juli 1962, mulai menulis sejak 1978. Ia merupakan anggota dan pengurus Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan pendiri Organisasi Pembina Seni (OPS). Karya-karyanya antara lain: Pengemis Perempuan dan Anaknya, Kupu-kupu, Anakku, Anakku Menggambar Masjid, Kawanku, Surat Cinta, Sajak Penantian, Dan Malam, Sang Elang, Anakku Gemar Melukis, dll.

51. Wan Anwar

Lahir di Cinajur, Jabar, 1970, salah satu karyanya adalah Tiga Dunia dalam “Derabat”.

52. Mona Sylviana

Lahir tanggal 16 Mei 1972, ia aktif tampil bersama “Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film” UNPAD. Salah satu cerpennya adalah Lastri.

53. Shoim Anwar

Lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur, 16 Mei 1963. Ia tiga kali meraih hadiah penulisan cerita pendek yang diadakan Dewan Kesenian Surabaya, yaitu atas cerpennya “Brundy Drummond” (1988), “Laki-laki Bercelurit” (1989), dan “Musim Gugur” (1990). Salah satu cerpennya adalah Pot dalam Otak Kepala Desa.

54. Nenden Lilis A.

Lahir di Malangbong, Garut, Jabar, 26 Desember 1971. Karyanya antara lain: Senja di Beranda, Suara Langkah di Luar Kamarku, Dari Abd-abad yang Hilang, Ornag-orang Mengulum Lebah, Sajak Pintu, Partre, Sebuah Catatan, Nafiri, Negeri Sihir, dll.

55. Nur Zain Hae

Lahir di Jakarta, 12 April 1970.bersama teman-temannya di IKIP Jakarta ia mendirikan Kelompok Tikar Pandan, sebuah forum yang mengkhususkan pada persoalan sastra dan budaya. Karya-karyanya antara lain: Taman Kanak-kanak, Mitologi Keluarga Kami, Meditasi Nuh, Menggambar Tubuh dan Lautan Kesedihan, Instalasi, Opera Pukul Lima, dll.

56. Oka Rusmini

Lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Kumpulan puisi tunggalnya adalah  Monolog Pohon (1997) dan novelnya Tarian Bumi (2000). Karyanya antara lain: Totem, Di Depan  Meja Rias, Menjadi Ibu, Pelabuhan Api, Frans, Sepotong Kaki, dll.

57. Omi Intan Naomi

Lahir di Denpasar, Bali, 26 Oktober 1970. Karyanya antara lain: Ken Arok, Berlin, Kelahiran, Legenda, Kota, Dusun, Kita Telanjang, Buta Pasukan Perjalanan Kaki, Pengungsi, Penyaliban, Semut, Berhala, dll.

58. Oyos Saroso HN

Lahir di Bnyu Urip, Purworejo, Jateng, 16 Maret 1969. Kini ia bekerja sebagai wartawan Lampung Post. Karyanya antara lain: Sketsa Sebelum Perang, Ekstase Kematian, Mengatruh, Interior Ruang Mati, Cermin Waktu, Biografi Keluarga, Sejarah Keluarga, Cara Membunuh Burung, Itikaf, Biografi Ayah, dll.

59. Radhar Panca Dahana

Lahir di Jakarta, 26 Maret 1965. Juga berkecimpung di dunia teater dan mementaskan lebih dari 20 naskah. Karya-karyanya antara lain: Dari Kosong Menjadi Tari, Tokyo yang Pertama, Sitor di Fransiscue Rue, Pelukis Tua Monmartre, Seribu Tahun Weibenburgstr, dll.

60. Rainy M.P. Hutabarat

Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1962. Menulis cerpen yang salah satunya adalah Bukan si Gondrong Namanya Kalau…

61. Rani Rachmani Moediarta

Lahir di Majalengka, Jabar, 15 Desember 1960. Redaktur majalah Sarinah (1985-1986), dan  sejak 1986 hingga kini menjabat sebagai redaktur kesehatan, gizi, dan Sayembara majalah Femina. Cerpen pertmanya “Bunda” memenangkan sayembara majalah Kartini, 1983, dan cerpen kedua “Menebus Murka Ibu” memenangkan sayembara majalah Femina, 1987. Salah satu cerpennya berjudul Matahari di Celah Rinjani.

62. Rayni N. Massardi

Lahir di Brussel, Belgia, 29 Mei 1957. Pernah menajadi redaktur, menyutradai film, memproduksi film, dan mengasuh acara dunia busana dan tata busana di TVRI. Salah satu cerpennya adalah Jangan Menangis, Indonesia..

63. Remmy Novaris D.M.

Lahir di Bandung, 5 November 1958, mulai menulis sejak SMP. Ia pernah memenangkan penulisan puisi harian Sinar Harapan, puisinya antar lain: Perjamuan, Hujan yang Datang, Musafir, Jalan Mimpi, Nyanyian Anak-anak, Turbin Ilmu Pengetahuan, Ekstasi, Pedagang, Demokrasi Tablet, Perempuan dalam Botol, Pulang, dll.

64. Seno Gumira Ajidarma

Lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Awalnya menulis puisi dengan menggunakan nama Mira Sato. Tahun 1976 mulai menulis cerpen  “ Sketsa dalam Satu Hari”. Cerpennya “Pelajaran Mengarang” dinobatkan sebagai cerpen terbaik harian Kompas (1992), tahun 1994 ia mendapat hadiah dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI atas kumpulan cerpennya Saksi Mata. Tahun 1997 ia meraih hadiah buku terbaik dari Yayasan Buku Utama untuk bukunya Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, dan mendapat SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk prestasi sastranya selama ini. Karyanya antara lain: Sepotong Senja untuk Pacarku, Telepon dari Aceh, Keindonesiaan, dll.

65. Sirikit Syah

Lahir di Surabaya, 28 Juli 1960. Pernah bekerja sebagai redaktur dan wartawan, salah satu cerpennya yaitu Perempuan Suamiku.

66. Sitok Srengenge

Lahir di Desa Doro Legi, Grobogan, Jateng, 22 Agustus 1965, aktif di Bengkel Teater Rendra, dan kemudian teater Matahari, forum dialog Keranjang Sampah, dan Gorong-gorong Budaya. Karyanya antara lain: Generasi Hutan Ranjang, Obituari Bulan, Keluarga Hibrida, Morfem Tak Bebas, Osmosa Asal Mula, Genesis, Seusai Satipatana, Teluh Lanang, dll.

67. Soni Farid Maulana

Lahir di Tasikmalaya, Jabar, 19 Februari 1962, pernah diundang dalam berbagai pertemuan sastrawan. Karyanya antara lain: Layang-layang Terbakar, Percakapan, Kubur Sunyi, Bukit Kembar, Rudapksa Kegelapan, Jamuan Malam, Syiar Gabah dan Badak Bercula Tiga, Komposisi Keheningan, Narasi Bulan dan Kabut, dll.

68. Sony Karsono

Lahir di Pasuruan, Jatim, 8 April 1971, mulai menulis sejak SMP. Ia termasuk cerpenis ekperimental-inovatif. Cerpennya diantaranya Sukra, Tirai, dll.

 

69. Suryadi

Lahir di Pariaman, Sumbar, 15 Agustus 1965, banyak melakukan penelitian dan gemar mencatat pengalaman avonturirnya dalam bentuk karya kreatif. Salah satu karyanya yaitu Komitmen Sosial Sastra: Surat Terbuka untuk Afrizal Malna (AM).

70. Tatty Haryati

Lahir di Jakarta, 20 Maret 1974, puisinya antara lain: Ada yang Harus Mati, Sebab Aku adalah Gerak, Kita, Labirin, Dan Waktu Mengajarkanku, dll.

71. Taufik Ikram Jamil

Lahir di Telu Belitung, Bengkalis, Riau, 19 September 1963. Sering mengikuti kegiatan sastra dan budaya di Indonesia, cerpennya “Menjadi Batu” merih hadiah pertama sayembara cerpen majalah Horison, 1997. Dan setelah itu banyak cerpennya yang mendapat penghargaan.

72. Tjahjono Widijanto

Lahir di Ngawi, Jarim, 18 April 1969, karyanya antara lain: Sajak Rakit di Tengah Samodra, Memori Reportoar Pagi, Wirid Batu-batu, Semioika Perjalanan Masa, Dari Negeri Liliput, Raquiem Aeternam, Kalinyamat, dll.

73. Tomy Tamara

Lahir di Maros, Sulsel, 14 Januari 1967, mendirikan kelompok penulis Forum Penulis Laras di Maros. Sajaknya “Valet untuk Toraja” mendapatkan 10 terbaik Borobudur Award dan diterbitkan dalam antologi Amsla Sebuah Patung (1997). Puisinya antara lain: Valet untuk Adinda II, Valet untuk Adinda III, Valet untuk Toraja, Valet untuk Bali, Ganesha, dll.

74. Triyanto Triwikromo

Lahir di Salatiga, Jateng, 15 September 1964. Terakhir bekerja sebagai wartawan, tahun 1989 dinobatkan sebagai penyair terbaik majalah Gadis, dan tahun 1990 dinyatakan sebagai sslah seorang penyair terbaik versi Dirjen Kesenian RI. Salah satu cerpennya yaitu Sakerah.

75. Ulfatin CH.

Lahir di Pati, Jateng, 31 Oktober 1966. Menulis puisi yang dianataranya: Pekerjaan Mawar, Aku Bernyanyi Mawar, Smbisari, Perjalanan Malam II, Nynyian Burung, Ketika Pergi, dll.

76. Wahyu Wibowo

Lahir di Jakarta, 8 Maret 1957, pernah menjadi pemimpin umum majalah kebudayaan Tifa Sastra (1978), redaktur pelaksana majalah dan menulis sejak SMP. Salah satu karyanya adalah Mesin Cuci.

77. Wiji Thukul

Lahir di Kampung Sorogenen, Surakarta, 26 Agustus 1963. Menulis puisi, esai, cerpen, dan resensi di dalam maupun di luar negeri. Puisinya antara lain: Puisi si Tukang Loper Koran, Suti, Lumut, Banjir, Teka-teki yang Ganjil, Pak Becak dan Nyonya-nyonya Gemuk, Habis, Comberan, dll.

78. Wowok Hesti Prabowo

Lahir di Purwodadi-Grobogan, Jateng, 16 April 1963. Mendirikan komunitas Budaya Buruh Tanggerang (BUBUTAN) bersama penyair Dingu Rilesta, karyanya antara lain: Anakku Memasak, Rumah Menangis, Kita Luka, Anakku Belajar Berdoa, Bardi Menjelma Mesin, Wiji Thukul, Sehabis Mogok, Di Sini Aku Sperti Kuda, PHK, Menjahit Luka, dll.

79. Yanusa Nugroho

Lahir di Surabaya, 2 Januari 1960. Tahun 1987 salah satu cerpennya memenangkan Multatuli dan beberapa cerpennya terpilih sebagai cerpen pilihan Kompas. Salah satu cerpennya adalah Melky.

80. Yusrizal K.W.

Lahir di Padang, Sumbar, 2 November 1969. Karya-karyanya antara lain: Negeri Kekasih, Interior Kelahiran, Sajak Pagi yang Sederhana, Ini Cuma Pengajian, Tamu, Penumpang Mata, Setrum, dll.

81. Zoya Herawati

Lahir di Gresik, Jatim, 21 Agustus 1956, mulai menulis sejak mengikuti lomba menulis tingkat SLTA se-provinsi jawa Timur. Tahun 1982 ia memenangkan lomba penulisan cerpen DKS-Liberty. Tahun 1995 terbit buku terjemahannya Malcoem X, tahun 1998 novelnya Prosesi (Jiwa yang Tepenjara) meraih hadiah Harapan I dalam sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta. Salah satu novelnya adalah Kematian.

 

Ciri-ciri angkatan 2000:

Tema social-politik, romantik, masih mewarnai tema karya sastra

Banyak muncul kaum perempuan

Tidak ada aturan yang mendasar

Karya sastra lebih marak lagi, termasuk adanya sastra kora

Adanya sastra berteman gender, perkelaminan, seks, feminisme

Banyak muncul karya populer atau gampang dicerna, dipahami pembaca

Adanya sastra religi

 

Kekurangan dan kelebihan sastra angkatan 2000 sebagai berikut:

Kelebihan karya sastra tahun 2000 yaitu:

Pencerminan sebagai karya reformasi dimana terjadi revolusi

Penggunaan tema yang beragam

Banyaknya muncul karya sastra pembangun jiwa

Kejadian menarik yang inspiratif banyak digunakan pengarang dalam menuliskan karyanya.

Sedangkan kekurangan sastra angkatan 2000 yaitu:

Banyak munculnya sastra perkelaminan yang cenderung merusak moral bangsa

Adanya lapisan sastrawan muda dengan ekspresinya yang menggebu-gebu berkata secara terbuka, bebas dan tidak terlalu memprhatikan nilai moral yang berkembang di masyarakat.

Beberapa sastrawan cenderung sekuler dan feminis dalam menuliskan karyanya.

Jenis Sastra Yang Berkembang dalam Angkatan 2000

Karya sastra tidak lepas dari perkembangan Kultur Sosial yang ada dalam masyarakat terutama ketika sastra mencatat kehidupan dengan kevulgaran yang bagi mereka itu merupakan realita. Demikian lah Sastra Wangi yang kemudian muncul di decade angkatan 2000an ini. Sebagaimana Internet menjadi revolusi media kedua setelah penemuan mesin cetak dan ketiga setelah kehadiran televisi. Dan saat itulah munculnya sastra Cyber yang menjadi kekhasan terkait dengan keberadaan teknologi medi

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!