SERUNYA BISA TAU KONSEP PEMEROLEHAN BAHASA ANAK

Pemerolehan Bahasa Anak

pemerolehan-bahasa-anak. Pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang dipergunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi, dengan ucapan-ucapan orangtuanya sampai dia memilih, berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang paling baik serta yang paling sederhana dari bahasa tersebut.

konsep bahsa anak
bahasa-anak- syahruanam.com
  1. Pendapat dari Pakar Pahasa

Chomsky (1966)

Peralatan atau perlengkapan pemerolehan bahasa haruslah

berupa keberdikarian bahasa atau language-independent, yaitu mampu mempelajari setiap bahasa manusia yang mana saja pun, dan harus menyediakan serta menetapkan suatu batasan pengertian atau gagasan ‘bahasa manusia’ (Chomsky, 1966 dalam Tarigan, 1986:244).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, yang dimaksud dengan model pemerolehan bahasa adalah suatu teori siasat yang dipergunakan oleh anak-anak untuk menyusun suatu tata bahasa yang tepat bagi bahasanya untuk mempelajari bahasanya berdasarkan suatu sampel data linguistik utama yang terbatas (Chomsky, 1965 dalam Tarigan, 1986:244).

2.  Mengapa di sebut dengan istilah pemerolehan bahasa

karena dengan istilah ‘pemerolehan bahasa’ kita maksudkan ‘proses yang dilakukan oleh anak-anak mencapai sukses penguasaan yang lancar serta fasih terhadap bahasa ibu mereka.

Agar dapat menemukan tata bahasa sesuatu bahasa maka kaidah-kaidah bagi semua kalimatnya haruslah disusun berdasarkan sejumlah ucapan yang terbatas saja.

Perangkat kalimat yang diturunkan oleh suatu sistem kaidah itu ditentukan secara unik. Satu tata bahasa tidak dapat menurunkan dua bahasa. Sebaliknya satu perangkat kalimat, satu bahasa tertentu, dapat kalau kita menganggap kalimat-kalimat sebagai untaian-untaian kata-kata atau fonem-fonem yang mendasari urutan-urutan bunyi.

Sebelum anak belajar tentang bahasa asli atau bahasa ibu tentu saja anak-anak belum memiliki suatu siasat yang matang yang memudahkannya menganalisis kalimat-kalimat sesuai dengan tata bahasa yang belum dipelajari.

Kemampuan ini hanyalah diciptakan oleh pengalaman linguistik selama masa belajar itu. Akan tetapi, sama halnya dengan ciri-ciri kesemestaan tata bahasa, maka salah satu dari bakat-bakat yang dibawa sejak lahir sanggup berkembang secara wajar.

3. Cara mengetahui perkembangan bahasa

 

Peralihan dari keadaan pralinguistik ke suatu penguasaan bahasa jelas melibatkan perkembangan siasat pendengar-pembicara di samping pemerolehan tata bahasa khusus.

Perkembangan kemampuan linguistik terjadi di dalam konteks umum perkembangan konseptual dan intelektual anak-anak.

Memahami proses pemerolehan bahasa itu akan memberi kita pandangan yang lebih jelas mengenai perkembangan kognitif anak-anak secara menyeluruh, sebaliknya pemahaman yang mantap terhadap pemerolehan bahasa haruslah menunggu pengertian yang lebih seksama mengenai perkembangan kognitif umum.

Anak-anak mengembangkan kompetensi linguistik dalam pengertian bahwa dia mengembangkan gambaran intern tata bahasa dari bahasanya yang akhirnya mengizinkannya untuk membuat jenis-jenis pertimbangan/keputusan linguistik yang dapat dibuat oleh orang dewasa, yaitu keputusan-keputusan mengenai ketatabahasaan, kedwibahasaan, parafrase, dan sebagainya.

Begitu anak-anak mengembangkan kompetensi linguistik, maka dia pun mengembangkan juga kemampuan-kemampuan performansi linguistik, yang mengizinkannya menjadikan pikiran-pikirannya sendiri menjadi ucapan-ucapan yang dapat dipahami dan mengalihsandikan ujaran orang lain sehingga dia mencapai beberapa tingkat pemahaman.

Untuk menghindari kesalahfahaman, perlu dibedakan istilah bahasa ibu dari bahasa sang ibu bukan begitu. Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh anak.

 

4. APA ITU BAHASA IBU?

Bahasa ibu adalah kesamaan untuk istilah Inggris native language. Sedangkan bahasa sang ibu adalah bahasa yang dipakai oleh orang dewasa pada waktu berbicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoleh bahasa ibunya.

Misalnya bahasa anak yang umur 15 tahun ketika berbicara dengan adiknya yang berumur 2 tahun adalah bahasa sang ibu juga. Istilah ini dipakai sebagai padanan istilah Inggris motherese, parentese, atau child directed speech.

5. CIRI-CIRI BAHASA IBU?

Bahasa sang ibu mempunyaI ciri-ciri khusus, yang meliputi, kalimatnya pendek-pendek, nada suaranya tinggi, intonasinya agak berlebihan, laju ujaran agak lambat, banyak pengulangan (redundansi), dan banyak memakai kata sapaan.

Ciri-ciri ini makin lama makin berkurang sesuai dengan perkembangan anak. Meskipun dengan landasan filosofis yang mungkin berbeda-beda, pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak di mana pun juga memperoleh bahasa ibunya dengan memakai strategi yang sama.

Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan bekal kodrati pada saat dilahirkan. Di samping itu, dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini.

Bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input dari sekitarnya. Karena dalam bahasa ada tiga komponen, yakni fonologi, sintaksis, dan semantik.

7. BAHASA PERTAMA KALI SSEORANG ANAK

Sebelum anak dapat mengucapkan kata, dia memakai cara lain untuk berkomunikasi, dia memakai tangis dan gestur (gerakan tangan, kaki, mata, mulut, dsb.).

Pada awalnya kita kesukaran memberi makna untuk tangis yang kita dengar tetapi lama kelamaan kita tahu pula akan adanya tangis-sakit, tangis-lapar, dan tangis-basah (pipis/eek).

Pada awal hidupnya anak memakai pula gestur seperti senyum dan juluran tangan untuk meminta sesuatu. Dengan cara-cara seperti ini anak sebenarnya memakai “kalimat” yang protodeklaratif dan protoimperatif.
Macam kata yang dikuasai anak mengikuti prinsip sana dan kini.

Dengan demikian kata-kata apa yang akan diperoleh anak pada awal ujarannya ditentukan oleh lingkungannya. Pada anak orang terdidik yang tinggal di kota dan cukup untuk memebelikan bermacam-macam mainan, buku gambar, dan di rumahnya terdapat alat-alat elektronik, orang tuanya juga mempunyai waktu untuk bergaul banyak dengan anaknya.

maka anak akan memperoleh kata-kata nomina (benda) seperti bola, anjing, kucing, beruang, radio, ikan, payung, sepatu, dsb. Untuk verba di samping yang umum seperti bubuk, maem, pipis, eek, juga akan diperoleh verba seperti nyopir, ngetik, jalan-jalan, belanja, dsb.

Pada anak petani di desa, apalagi yang agak terpencil, kata-kata seperti ini kecil kemungkinannya untuk dikuasai awal. Prinsip sini pada anak desa ini akan membuat dia menguasai kosakata sperti daun, rumput, cangkul, bebek, sapi, dsb.
Kata mempunyai jalur hierarki semantik. Perkutut Bangkok adalah satu jenis perkutut, dan perkutut adalah satu dari sekian banyak macam burung. Sementara itu, burung adalah salah satu dari binatang, dan binatang adalah salah satu wujud dari makhluk.

Dalam hal pemerolehan kata, anak tidak akan memperoleh kata yang kierarkinya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Anak akan mengambil apa yang dinamakan basic level category, yakni suatu kategori dasar yang tidak terlalu tinggi tetapi juga tidak terlalu rendah.

Dalam contoh binatang di atas, anak tidak akan mengambil binatang atau makhluk, dia juga tidak akan mengambil perkutut Bangkok atau perkutut. Dia akan mengambil kata yang dasar, yakni, burung. Tentu saja inputnya adalah dari bahasa sang ibu, tetapi bahasa sang ibu juga mengikuti prinsip ini.

Dalam hal penentuan makna suatu kata, anak mengikuti prinsip-prinsip universal, salah satu diantaranya adalah yang dinamakan overextension. Diperkenalkan dengan suatu konsep baru, anak cenderung untuk mengambil salah satu fitur dari konsep itu, lalu menerapkannya pada konsep lain yang memiliki fitur tersebut.

Contoh yang sering dipakai adalah konsep tentang bulan-moon. Pada waktu anak diperkenalkan dengan kata bulan, dia mengambil fitur bentuk fisiknya, yakni bulan itu bundar. Fitur ini kemudian diterapkan pada segala macam benda yang bundar seperti kue ulang tahun, jam dinding, piring, dan huruf o.

Tiap kali terapannya itu ditolak, dia merevisi “definisi” dia tentang bulan sampai akhirnya dia memperoleh makna yang sebenarnya. Di samping bentuk, ukuran juga bisa menjadi fitur yang diambil anak.

Dalam penguasaan makna kata anak menghadapi banyak kendala karena kata memiliki derajat kesukaran yang berbeda-beda. Pada umumnya, kata-kata yang kongkrit lebih mudah daripada yang abstrak dan karenanya lebih mudah serta lebih cepat diperoleh. Akan lebih mudahlah bagi anak untuk menguasai makna kata kursi daripada agama.

Kata yang memiliki pengertian relatif juga mengandung masalah. Kata seperti besar, misalnya, sangatlah relatif karena sangat tergantung pada referensinya. Seekor gajah yang kecil pastilah jauh lebih besar daripada seekor semut yang besar.

Kata paman memang sering dipakai oleh anak keluarga terdidik, tetapi apakah dia memahami makna kata itu? Apakah dia tahu bahwa paman itu adalah adik dari ayah atau ibu? Begitu juga kata kakek, nenek, saudara sepupu, dsb.

Dari minggu-minggu pertama sesudah lahir, anak mulai menunjukkan niat komunikatifnya dengan antara lain tersenyum, menoleh bila dipanggil, menggapai bila diberi sesuatu, dan memberikan sesuatu kepada orang lain. Setelah perkembangan biologisnya memungkinkan, anak mulai mewujudkan niat komunikatifnya dalam bentuk bunyi.

Semua ujaran yang dikeluarkan diarahkan untuk kepentingan dia sendiri, bukan untuk orang lain. Karena itulah pada awal hidupnya anak kelihatan egois dan egosentris. Mengenai pengembangan kemampuan percakapan, anak juga secara bertahap menguasai aturan-aturan yang ada.

Percakapan mempunyai struktur yang terdiri dari tiga komponen, yaitu pembukaan, giliran, dan penutup. Secara naluri, anak akan tahu kapan pembukaan percakapan itu terjadi. Bila orangtua menyapanya, itulah tanda bahwa percakapan akan mulai.

Begitu juga dari pihak anak, anak bisa memulai percakapan itu dengan menyapa atau melakukan sesuatu kepada orangtuanya, kakaknya, atau pembantunya.

Pada umumnya, ada dua proses yang terjadi ketika seorang anak sedang mmpperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi.

Proses kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat.

Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua jenis proses kompetensi ini apabila telah dikuasai oleh anak-anak akan menjadi kemampuan linguistik anak-anak itu.

Jadi, kemampuan linguistik terdiri dari kemampuan memahami dan kemampuan melahirkan atau menerbitkan kalimat-kalimat baru yang dalam linguistik transformasi generatif disebut perlakuan, atau pelaksanaan bahasa, atau performansi.

Hipotesis nuranni bahasa merupakan satu asumsi yang menyatakan bahwa sebagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia. Sedangkan hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa proses pemerolehan bahasa oleh manusia ditentukan oleh perkembangan kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan pengalaman.

Maka beda kedua hipotesis ini adalah bahwa hipotesis nurani bahasa menekankan terdapatnya sesuatu “benda” nurani yang dibawa sejak lahir yang khusus untuk bahasa dan berbahasa. Sedangkan hipotesis nurani mekanisme terdapatnya suatu “benda” nurani berbentuk mekanisme yang umum untuk semua kemampuan manusia. Bahasa dan berbahsa hanyalah sebagian saja dari yang umum.

Seorang anak-anak yang sedang memperoleh sistem bunyi bahsa ibunya, pada mulanya akan “mengucapkan” semua bunyi yang ada pada semua bahasa yang ada di dunia ini pada tahap berceloteh (babling period). Namun, orang tua si anak itu hanya “memberikan” bunyi-bunyi yang ada dalam bahasa ibunya saja. Maka dengan demikian, si bayi hanya dilazimkan untuk menirukan bunyi-bunyi dari bahasa ibunya saja.

Lalu, si bayi akan menggabungkan bunyi-bunyi yang telah dilazimkan itu untuk menirukan ucapan orang tuanya. jika tiruannya itu betul atau mendekati ucapan yang sebenarnya, maka dia akan mendapat “hadiah” dari ibunya berupa senyuman, tawa, ciuman, dan sebagainya.

Bisa dikatakan bahasa anak-anak itu berkembang setahap demi setahap, mulai dari bunyi, kata, frase, dan kalimat. Perkembangan kemampuan berbahasa selalu diperkukuh dengan hadiah-hadiah atau ganjaran-ganjaran, sehingga menjadi tabiat atau perilaku pada anak-anak itu.

Menurut teori behaviorisme bahasa adalah sekumpulan tabiat-tabiat atau perilaku-perilaku. Tabiat-tabiat seperti inilah yang ditulisakan pada “kertas kosong” tabularasa otak anak-anak.

Berdasarkan pandangan Piaget dalam kesemestaan kognitif rumusan tahap-tahap pemerolehan bahasa anak yaitu, yang pertama, anak-anak memilih satu gabungan bunyi pendek dari bunyi-bunyi yang didengarnya untuk menyampaikan satu pola aksi. Kedua, jika gabungan bunyi-bunyi pendek ini dipahami, maka anak-anak itu akan memakai seri bunyi yang sama, tetapi dengan bentuk fonetik yang lebih dekat dengan fonetik orang dewasa, untuk menyampaikan pola-pola aksi yang sama, atau apabila pola aksi yang sama dilakukan oleh orang lain.

Pola aksi ini pada mulanya selalu mempunyai hubungan dengan anak-anak itu, dan di dalam pola aksi itu selalu terjalin unsur, yaitu agen, aksi, dan penderita. Ketiga, muncullah fungsi-fungsi tata bahasa yang pertama yaitu subjek-predikat, dan objek-aksi.

Daftar Rujukan
Buku:

• Chaer, Abdul. 2015. Psikolinguistik : Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta
• Dardjowidjojo, Soenjono. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
• Harley, Trevor A. 2001. The Psichology of Language From Data to Theory. New York: Psychology Press
• Tarigan, Henry Guntur. 2011. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung : Angkasa
• Traxler, Matthew J. & Gernsbacher, Morton Ann. 2006. Handbook of Psycholinguistics: 2nd edition. USA: Academic Press

Tinggalkan komentar